Connect with us

Kekinian

Bawa 17 Butir Ekstasi, Residivis Pengedar Sabu Divonis 4,5 Tahun Penjara -AKURAT News

Published

on


AKURATNEWSAlan, residivis pengedar sabu, yang kembali menjadi terdakwa karena kedapatan membawa 17 butir pil ekstasi, divonis 4,5 tahun penjara.

Dalam vonisnya, majelis hakim yang diketuai Dede Suryaman, di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya menyatakan, terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 112 KUHP Undang – Undang Narkotika.

“Terdakwa Alan anak Toni Denisend terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 112 KUHP Undang – Undang Narkotika. Dan divonis 4 tahun 6 bulan penjara,” kata ketua majelis hakim Dede Suryaman, pada Selasa (4/5/21).

BACA JUGA : Satlantas Polrestro Depok Amankan Puluhan Unit Mobil Pemudik

Namun pada vonisnya tersebut, majelis hakim tidak menjadikan status terdakwa yang merupakan residivis pengedar sabu, sebagai pertimbangan yang memberatkan hukumannya.

“Adapun hal – hal yang meringankan, terdakwa masih muda. Dan yang memberatkan hukuman, karena perbuatan terdakwa Alan anak Toni Denisend meresahkan masyarakat,” ungkap Hakim Dede Suryaman.

Pembacaan putusan majelis hakim tersebut, langsung dilakukan usai penasehat hukum terdakwa, Ahmad Zaini, membecakan pembelaan.

Perlu diketahui, sebelumnya Alan pernah ditangkap dan divonis 10 tahun penjara pada 2016 silam atas kasus peredaran narkoba jenis sabu. Namun baru saja menghirup udara bebas pada Oktober 2020, terdakwa kembali dibekuk polisi sebulan kemudian, setelah ia memesan 40 butir ineks.

Baca Juga : Majelis Hakim Tolak Dakwaan Oditur Militer Terhadap Peltu Fauzi

Selain kasus ekstasi, berdasarkan SIPP, pada 8 Agustus 2020 silam, saat masih dipenjara, terdakwa juga sempat menyuruh M Hendrik Yahya alias Konteng (berkas terpisah), untuk mengambil ranjauan sabu seberatnya 100 gram, melalui pesan singkat Whats app.

Ranjauan itu ada di Sukodono Sidoarjo. Narkotika itu lalu dibagi menjadi lima bungkus. Dua plastik masing-masing 40 dan 10 gram. Keduanya lalu dikirimkan lagi dengan cara diranjau di Pasar Lawang . Kegiatan itu dilakukan pada 9 Agustus 2020 pukul 19.00 WIB.

Dihari yang sama, 20 gram sabu dikirimkan kepada Koder dan 10 gram lainnya dikirim ke Pasar Nguling Pasuruan. Keesokan harinya, satu bungkus sabu seberat 20 gram dikirimkan melalui jasa ekspedisi JNE.

Dari perbuatan tersebut, terdakwa memberi upah Hendrik sebesar Rp 2 juta sekali pengiriman. Bayaran itu diberikan dengan cara transfer melalui rekening BCA.

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Suparlan ketika ditanya terkait peredaran sabu dari dalam rutan yang dilakukan terdakwa, ia mengatakan bahwa hal tersebut tidak dapat dimasukan sebagai pertimbangan dakwaan.

“Faktanya saat ditangkap, bb (barang bukti) hanya 17 butir, tidak bisa kita dakwakan ke pengedaran itu. Karena itu hanya bahasa pengakuan terdakwa lain,” jawabnya sambil berjalan cepat menghindari wartawan.

Vonis Majelus Hakim itu, lebih ringan 1,5 tahun dari tuntutan JPU, Suparlan yang menuntut terdakwa dengan 6 tahun penjara.



Source link

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 HarianKami.com |