Time 2020-11-30

Newsweek 2020-11-6

Newsweek

Majalah Intisari Oktober 2020

majalah INTISARI
majalah INTISARI

Majalah Gatra Edisi 22 – 28 Oktober 2020

GATRA

Status Literasi Digital Nasional

Status Literasi Digital Nasional
Status Literasi Digital Nasional

Din Syamsuddin Bicara Anies Baswedan Dipanggil Polisi

HARIANKAMI.com — “Belum pernah terjadi Polda memanggil seorang Gubernur yang merupakan mitra kerja hanya untuk klarifikasi, kecuali dalam rangka penyidikan,” kata Din Syamsuddin, Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI).

Din  mengkritik langkah Polda Metro Jaya mengundang Gubernur DKI Jakarta. Ia menilai pemanggilan Anies oleh polisi bernuansa politik.

“Pemanggilan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan oleh Polda Metro untuk dimintai klarifikasi tentang kerumunan pernikahan putri Habib Rizieq Shihab dapat dipandang sebagai drama penegakan hukum yang irrasional atau tidak wajar,” kata Din.

Din lalu membandingkan sikap polisi terhadap Gubernur DKI saat ini, dengan gubernur lain yang memimpin wilayah di mana terjadi kerumunan serupa akibat acara Habib Rizieq.

Bagi Din, pemanggilan polisi terhadap Anies hanya akan mendatangkan simpati masyarakat.

“Kejadian ini merupakan preseden buruk yang hanya akan memperburuk citra Polri yang overacting apalagi terkesan ada diskriminasi dengan tidak dilakukannya hal yang sama atas gubernur lain yang di wilayahnya juga terjadi kerumunan serupa. Tindakan ini akan menjadi bumerang bagi rezim, dan telah menuai simpati rakyat bagi Anies Baswedan sebagai pemimpin masa depan,” kata Din.

Untuk diketahui, polisi memanggil Anies terkait kerumunan massa pemimpin FPI Habib Rizieq Syihab. Anies tiba di Polda Metro Jaya, Selasa (17/11) pukul 09.40 WIB untuk memenuhi panggilan klarifikasi.

 

62 Menit Operasi Pembakaran Halte Sarinah

HARIANKAMI.com — Viral di media sosial,  mengenai  video ini. Apakah ini yang disebut operasi intelejen? atau ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan di air keruh?

| Buka Mata

Dengan menggabungkan video yang kami kumpulkan dari sumber terbuka, Tim Buka Mata Narasi menyusun kembali secara rinci, menit demi menit pembakaran Halte TransJakarta Sarinah pada 8 Oktober 2020.

Hasil analisis kami menemukan bahwa para pelaku memang datang untuk membakar Halte TransJakarta dan memperburuk situasi aksi demonstrasi penolakan UU Cipta Kerja.

Pelaku mula-mula datang dari arah Jalan Sunda secara berkelompok saat aksi mulai panas di perempatan Sarinah. Mereka sempat berfoto-foto dan melakukan pengamatan. Secara terencana, para pelaku kemudian berpencar untuk membakar Halte TransJakarta.

Saat mahasiswa terlibat bentrokan dengan Polisi di perempatan Sarinah, para pelaku sibuk melakukan pengrusakan halte. Mereka lantas memanfaatkan momen itu untuk melakukan pengrusakan lebih masif dengan sengaja menyulut api di dalam halte.

Hanya butuh waktu satu jam bagi para pelaku untuk menyulut api dan membuat bara di Jalan MH Thamrin.

Dan para pelaku bukan bagian dari mahasiswa atau buruh yang menjadi motor penggerak aksi demonstrasi penolakan Undang-Undang Cipta Kerja yang baru disetujui DPR dan Pemerintah dalam rapat paripurna pada 5 Oktober 2020.

Jusuf Kalla: Paus Memberi Tahu Saya Arti Persaudaraan Manusia

Paus juga menyampaikan pesan tentang pentingnya kita menjaga keharmonisan dengan orang lain di dunia ini karena tidak akan ada perdamaian tanpa interaksi manusia yang baik.

Mantan Wakil Presiden Indonesia Muhammad Jusuf Kalla, yang menjadi juri dalam Zayed Award for Human Fraternity, bertemu dengan Paus Fransiskus di Vatikan pada hari Jumat untuk membahas kemanusiaan dan perdamaian dunia.

“Paus memberi tahu saya arti persaudaraan manusia – kebersamaan serta persahabatan mereka, karena sangat penting untuk hari ini ketika dunia menghadapi banyak krisis,” Kalla, yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, kata dalam sebuah pernyataan yang diterima di Jakarta.

“Paus juga menyampaikan pesan tentang pentingnya kita menjaga keharmonisan dengan orang lain di dunia ini karena tidak akan ada perdamaian tanpa interaksi manusia yang baik,” tambahnya.

Selama interaksi, Paus Fransiskus mendesak semua hakim untuk menilai secara objektif para calon, dan dia “menguraikan beberapa langkah untuk masalah ini, menggarisbawahi tujuan acara ini untuk tujuan kemanusiaan,” kata Kalla.

Penghargaan Zayed untuk Persaudaraan Manusia dinamai sesuai nama presiden pertama Uni Emirat Arab dan penguasa Abu Dhabi, Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan. Ini disajikan kepada individu dan entitas untuk pekerjaan terobosan dalam pembangunan manusia.

Dalam rapat internal dengan juri, Kalla mengusulkan penemu vaksin COVID-19 dan pengobatannya sebagai penerima penghargaan, karena mereka dianggap sebagai pahlawan selama pandemi ini karena upaya mereka untuk menyelamatkan nyawa orang.

Sejak dilembagakan pada 2019, Zayed Award for Human Fraternity akan diberikan untuk pertama kalinya pada 2021, dengan nominasi mulai dari pejabat pemerintah, perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa, perwakilan organisasi non-pemerintah internasional, serta hakim agung, dan hakim agung. akademisi.

Batas waktu pengajuan nominee adalah 1 Desember 2020, sedangkan penghargaan dijadwalkan diumumkan pada 4 Februari 2021. Penghargaan tersebut membawa hadiah uang tunai sebesar US $ 1 juta.

Selain Kalla, juri lain untuk Zayed Award for Human Fraternity termasuk mantan presiden Republik Afrika Tengah, Catherine Samba-Panza; Gubernur Jenderal Kanada ke-27, Michaelle Jean; Kardinal Dominique Mamberti; dan mantan penasihat khusus PBB untuk pencegahan genosida, Adama Dieng.

Gatot Menantang BIN dan Polri Ungkap Aktor Rusuh

Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Gatot Nurmantyo meluruskan adanya tudingan dari pihak-pihak yang membuat rumors KAMI, dalam mendesain aksi-aksi tolak UU Cipta Kerja yang diwarnai bentrokan di berbagai daerah di Indonesia.

Dirinya bahkan bahkan menantang agar Badan Intelijen Negara (BIN) dan Polri menelusuri tuduhan tersebut.

“Sebenarnya hal ini tidak perlu repot-repot, ada BIN, ada Polisi yang sudah teruji, kan tinggal cari saja. Sangat mudah sekali. Yang membakar pos, CCTV kan ada. Tidak mungkin KAMI ini yang berlandaskan gerakan moral (melakukan itu), sama saja kita bunuh diri, merusak masa depan sendiri,” kata Gatot.

Menurut Gatot, persepsi segelintir pihak soal KAMI yang belum berusia dua bulan terlalu berlebihan. Sebab, kini KAMI seolah dituding bisa menggerakkan jutaan orang.

“Saya pikir itu suatu persepsi orang, betapa KAMI itu hebat, bahwa yang mengendalikan adalah KAMI. Tidak!” katanya lagi. “Secara resmi KAMI memang mendukung demo yang dilakukan buruh dan mahasiswa. Tetapi kami tidak ikut dalam aksi. Tapi kalau perorangan [mau ikut demo] silakan.”

Ia lalu bercerita lebih jauh soal Omnibus Law, bagaimana UU itu menjadi angan-angan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejak lama. Menurut keterangan Gatot, angan-angan itu muncul pada perjalanan periode pertama Presiden Jokowi.

“Sejak saya Panglima TNI. Presiden itu pusing meningkatkan investasi, karena di negara kita ini kayak hutan belantara undang-undang. Di mana UU ini sudah banyak tumpang tindih, ke PP, ke Perpres, sampai ke Peraturan daerah,” kata dia.

Artinya, lanjut Gatot, ketumpang tindihan itu membuat niatan investor menaruh dana di Tanah Air menjadi ragu. Maka itu, kemudian, dibutuhkan UU yang merangkum semuanya, di mana birokrasi menjadi lebih simpel, ada jaminan investasi, aparaturnya bersih, bisnis menjanjikan, dan akuntabilitas yang tinggi, shingga dengan demikian, pengusaha itu kemudian memiliki kepastian.

“Nah UU [Cipta Kerja] ini saya tahu tujuannya sangat mulia karena investasi akan datang, roda ekonomi berputar, pajak banyak, sehingga sandang pangan masyarakat bisa [terpenuhi],” kata Gatot yang  mengungkapkan bahwa tekanan terhadap pemerintah sangat tinggi.

Sebab, setiap tahun bertambah tiga juta tenaga kerja baru, di mana satu juta di antaranya adalah lulusan perguruan tinggi. Maka, akan menjadi kewajban bagi pemerintah untuk menyiapkan lapangan kerja.

“Nah, makanya harus ada investasi baru. Dari akumulasi ini, harus dibuat terobosan, permasalahan ini yang dihadapi presiden,” tutur Gatot.

Namun, ia mengatakan, ada yang kemudian menyentak sikap KAMI terhadap Omnibus Law yang menyatukan 79 UU menjadi satu ini. Sebut saja proses rancangannya yang dinilai seperti siluman, tergesa-gesa, tidak transparan, dan tidak jelas.

Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan di benak publik. Selanjutnya, dari analisis grup-grup besar di perguruan, UU ini berpotensi menimbulkan kegaduhan karena turut timbul di masa pandemi.

“Intinya UU itu memang harus ada, tetapi di dalam ini yang diatur kan ada pengusaha, ada buruh, nah harusnya tidak boleh ada garis seolah mau perang, pemisah. Kemudian, tidak boleh berat sebelah, harusnya dilihat kita perlu pengusaha, dan kita juga perlu buruh,” kata Gatot.

“Inilah yang harus arif dan bijak dalam UU yang ada ini, mengakomodasi semuanya, agar dapat berjalan seimbang. Buruh itu representatif masyarakat Indonesia, gajinya rendah, janganlah dibuat susah lagi,” imbuhnya, menambahkan bahwa itulah alasan KAMI berusaha menyuarakan suara hati rakyat.

 

Anak-Anak Revolusi

HARIAN KAMI.com — Risma, walikota Surabaya memaki maki seorang remaja yang dijaring demo di Surabaya.
Anak ini berasal dari Madiun. Risma marah karena kota Surabaya rusak gara-gara demo tolak Omnibus Law Cilaka datang dari luar kota.
Menurutnya, seharusnya demo itu di Madiun saja, jangan anak itu datang ke Surabaya.
Di jakarta Anies Baswedan mendatangi demonstran.
Kebakaran halte busway dan MRT mencapai 15 halte. Anies senyum menghadapi demonstran di bundaran HI, minta anak-anak muda itu membubarkan diri. Namun, Anies mengingatkan kalau mau melanjutkan demo, silakan besok lagi.
Hari kemarin puluhan ribu mahasiswa dan buruh di Bandung mengepung Gedung Sate.
Bentrokan dengan aparat keamanan terjadi. Keganasan anak-anak muda itu ditunjukan secara bringas menginjak-nginjak mobil brikade lainnya yang menghalangi mereka.
Video beredar mahasiswa tersebut diperbolehkan beberapa tentara membacakan tuntutan mereka di malam hari. Kemarin dan hari ini sesungguhnya semua daerah para bergejolak.
Anak-anak muda belia SMA dan STM, mahasiswa dan juga kaum buruh perempuan mengamuk dari Sabang sampai Merauke. Puluhan konfederasi dan federasi Serikat Buruh meminta semua buruh di manapun mogok kerja.
 Jakarta tentu jelas pusat pergolakan. Bukan saja buruh dan  mahasiswa, namun anak2 STM dan SMA tampil juga sebagai kelompok militan.
Mahasiswa-mahasiwa merasa menjadi kakak senior yang bangga menyambut anak-anak STM dan SMA itu, memberi mereka jalan untuk masuk ke barisan.
Buruh, mahasiswa, pemuda dan anak2 remaja (STM/SMA) tampil sekarang melakukan gerakan perlawanan terhadap rezim Jokowi.
Isu yang diusung adalah penolakan atas Omnibus Law. Berbagai pihak meragukan pemahaman mahasiswa dan anak2 STM/SMA ini memahami UU Omnibus Law itu. Sebab, mereka dianggap terlalu rendah pengetahuannya tentang UU ratusan halaman itu.
Namun, tentu bisa saja keraguan itu datang juga ketika puluhan ribu orang2 muda itu meneriakkan revolusi di depan Istana.
Apakah memang mahasiswa dan pemuda2 itu bodoh2 alias tidak nyambung? Kenapa mereka dianggap belum paham namun meneriakkan revolusi ????
Airlangga Hartarto, Menko Perekonomian dan Ketua Umum Golkar, memberikan statemen bahwa mereka ditunggangi. Airlangga menyebutkan sudah mengantongi kelompok penunggang tersebut.
Selanjutnya Mahfud MD dan jajaran pejabat keamanan negara menyatakan akan menindak tegas pendemo. Mahfud dan jajarannya mewakili Jokowi, karena Jokowi meninggalkan ibukota ketika demonstrasi meluas di Jakarta.
*Heroisme dan Unconsciousness Mind*
Mengkambing hitamkan dan menyepelekan serta dianggap ditunggangi para aktor kepada anak-anak STM dan SMA atau Mahasiswa terlalu menyepelekan situasi.
Kaum buruh memang vis a vis dengan kekuasaan Jokowi, karena nasibnya dimarginalisasi sampai hancur. Lalu kenapa mahasiswa? Kenapa remaja STM/SMA?
Kesadaran manusia atas situasi dalam teori psikoanalisis terdiri dari kesadaran nyata maupun kesadaran di bawah nyata (unconsciousness).
Unconsciousness itu adalah sebuah kesadaran yang terpendam.
Anak-anak STM dan SMA yang dipukuli dan di penjara pada November 2019 lalu, ketika demo di DPR-RI menolak revisi UU KPK telah memendam sebuah kesadaran bawah nyatanya tentang kekejaman terhadap mereka.
Begitu juga kekejaman yang dialami anak-anak remaja pada demo 21/22 Mei 2019 paska pilpres.
Jaman internet of things sekarang ini, jejak digital, dan pengetahuan anak-anak muda atas situasi dengan mudah masuk ke pikiran mereka. Namun, realitas ini tidak mudah dikonstruksi anak-anak muda ini dalam dunia nyata.
Baik karena faktor ketakutan, maupun lainnya  Namun, kesadaran itu tidak hilang. Dia dapat berupa dendam. Namun, dapat juga sebagai sebuah kesadaran nyata ketika bertemu momentumnya. Seperti situasi sekarang ini.
Dendam maupun kesadaran yang bergeser jadi nyata, menurut saya, telah terjadi pada anak-anak belia ini.
Pemahaman mereka atas UU Omnibus Law mungkin terbatas. Namun, mereka memaknai gerakan penolakan kaum buruh sebagai sebuah kebenaran, karena sebuah versus antara buruh dengan pemerintah, membuat mereka lebih yakin dengan buruh.
Apalagi berbagai faktor kegagalan pemerintah dalam urusan kesehatan dan situasi krisis ekonomi berkelanjutan membuat hampir semua rakyat depresi.
Unconscious Mind yang bergeser nyata berimpit dengan semangat anak-anak muda, yang dalam sejarahnya menginginkan sebuah heroisme.
Perasaan membela nasib bangsa dalam situasi bangsa yang sulit, muncul begitu besar.
Seorang Mahasiswi yang dipukuli aparat, yang tersebar dalam video beredar, misalnya, akan memunculkan heroisme. Karena mereka merasa di front depan bertempur dengan kekuasaan.
Heroisme bagi kaum buruh tentu saja juga terjadi. Sebab mereka sedang membela nasibnya. Namun, kesadaran kaum buruh adalah kesadaran nyata.
Mereka mempunyai organisasi dan elit-elit buat mengkaji pasal-pasal yang merugikan pada Omnibus Law. Bagimana kalangan kampus?
Professor dan dosen-dosen dari berbagai perguruan tinggi sudah banyak mengecam UU Omnibus Law ini. Kesadaran mereka juga nyata.
Dan tentu saja sebagai cendikiawan mereka harus memilih apakah tetap berada di “menara gading” atau menyuarakan kebenaran.
Saat ini semakin nyata perlawanan dari kalangan perguruan tinggi semakin menggema dan meluas. Faktor ini juga mendukung keberadaan gerakan mahasiswa dan remaja tadi.
Sekali lagi, menuduh adanya aktor penunggang tentu menyepelekan analisis  situasi saat ini. Meskipun berbagai ekses telah terjadi, seperti pembakaran, pengrusakan berbagai fasilitas maupun penjarahan dibeberapa tempat.
*Anak-Anak Revolusi*
Anak-anak muda ini adalah anak-anak revolusi. Seperti anak-anak muda di Thailand dan Hongkong, mereka tampil gagah di jalanan berdemonstrasi. Sebagiannya disiksa aparat, sebagiannya ditangkap.
Namun, perlawanan mereka kelihatannya sudah mempertimbangkan resiko. Kenapa? resiko terbesar adalah keluar rumah berkerumun di masa covid-19.
Resiko pandemi hanya berani diambil oleh orang-orang tolol atau orang sadar. Tentu saja demonstrasi mahasiswa dan SMA ini punya tujuan. Begitu juga kaum buruh. Sehingga resiko yang diambil pasti dipilih dengan mempertimbangkan tujuan krmanusian, yang mulia.
Kedua, resiko dipukulin aparat sudah bukan hal baru bagi anak2 muda itu. Justru mereka sudah melihat ganasnya aparat dalam menangani demo. Bahkan, berita terbengis terakhir adalah mahasiswa demo di Kendari dibubarkan dengan Helikopter, sebuah keganjilan baru di dunia.
Mereka adalah anak-anak revolusi karena mereka berani mengambil resiko besar baik pandemi maupun kekejaman aparat. Dan mereka telah menyadari tujuan dari demonstrasi itu sendiri, yakni membela hak hak rakyat.
*Penutup*
Demonstrasi anak-anak muda belia berkibar di seluruh seantero Indonesia. Orang-orang tua sebagian menangis melepas anak-anak itu menemukan kekerasan di jalanaan serta juga resiko Covid-19.
Risma memaki-maki anak anak muda itu karena dari luar Surabaya merusak kotanya Risma.
Anies Baswedan tersenyum minta anak-anak muda pulang dulu sudah malam. Airlangga Hartarto menuduh ada penunggang. Mahfud MD menuduh ada aktor aktor dan akan ditindak tegas.
Perlawanan mahasiswa, buruh dan anak-anak STM/SMA ini adalah peristiwa revosioner dalam sejarah. Sebab, resiko perjuangan terlalu besar dan tujuan perjuangannya terlalu mulia (menolak UU penindasan).
Namun, sejarah akan menemukan jalannya sendiri. Revolusi akan mencari jalannya sendiri. Berbagai elemen dan ekosistem dalam sebuah revolusi maupun perubahan sosial besar harus dimaknai secara benar. Diantaranya adalah lahirnya elemen anak-anak revolusi itu.
Saatnya semua pihak membaca situasi secara benar. Melihat dalam bingkai demokrasi. Agar menempatkan analisis sosial secara tepat demi menghormati keberadaan anak-anak revolusi ini.
#Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle

Recent Posts